BANDUNG — MTs/SMP Informatika MIMHa bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Girimande menyelenggarakan program Sosialisasi Kesehatan Jiwa dan Orientasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) pada Senin, 26 Oktober 2026, di halaman MTs/SMP Informatika MIMHa.
Kegiatan ini diikuti para siswa sebagai bagian dari edukasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan jiwa, kemampuan mengenali kondisi diri, mengelola emosi dan stres, serta mengetahui langkah yang tepat ketika diri sendiri maupun orang di sekitar membutuhkan pertolongan.
Materi yang disampaikan tim UPTD Puskesmas Girimande mengajak siswa memahami bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kesehatan jiwa juga berperan penting agar seseorang mampu mengenali potensi dirinya, menghadapi tekanan sehari-hari, tetap produktif, serta berkontribusi positif terhadap lingkungan.
Memahami Apa Itu Sehat Jiwa

Salah satu pembahasan utama dalam sosialisasi adalah pemahaman mengenai kondisi kesehatan jiwa.
Siswa diajak memahami bahwa sehat jiwa bukan hanya berarti tidak memiliki gangguan jiwa. Kondisi kesehatan mental berada dalam sebuah kontinum dan dapat berubah mengikuti keadaan, pengalaman, tekanan, maupun dukungan yang dimiliki seseorang.
Pemahaman tersebut penting bagi remaja karena masa sekolah merupakan periode ketika siswa menghadapi berbagai perubahan, baik dari sisi akademik, pertemanan, keluarga, maupun perkembangan dirinya sendiri.
Dengan literasi kesehatan jiwa yang lebih baik, siswa diharapkan tidak mudah memberikan label kepada dirinya atau orang lain, tetapi mampu memahami bahwa kondisi psikologis perlu dikenali dan ditangani secara tepat.
Pikiran, Perasaan, dan Perilaku Saling Berkaitan
Tim Puskesmas juga menjelaskan hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku.
Apa yang seseorang pikirkan dapat memengaruhi perasaannya dan kemudian memengaruhi perilakunya. Sebaliknya, perasaan dan perilaku juga dapat memengaruhi cara seseorang berpikir.
Sebagai contoh, pikiran negatif seperti merasa akan ditolak oleh teman dapat memunculkan rasa cemas, takut, atau minder sehingga seseorang memilih menghindar. Materi kemudian mengajak siswa belajar membangun pikiran yang lebih adaptif, misalnya menyadari bahwa kegagalan bukan akhir dan seseorang masih dapat belajar serta mencoba kembali.
Melalui pemahaman ini, siswa diharapkan mampu lebih mengenali apa yang sedang mereka pikirkan dan rasakan sebelum mengambil tindakan.
Mengenal Faktor yang Melindungi Kesehatan Jiwa

Sosialisasi turut membahas faktor protektif dan faktor risiko kesehatan jiwa.
Bagi anak dan remaja, beberapa faktor yang dapat mendukung kesehatan jiwa antara lain kemampuan mengelola emosi, keterampilan pemecahan masalah, optimisme, kesehatan fisik, orientasi masa depan, spiritualitas, hubungan yang baik dengan keluarga, serta keberadaan lingkungan yang suportif.
Sebaliknya, perundungan, konflik keluarga, kurangnya dukungan, pengalaman traumatis, serta lingkungan yang penuh kekerasan dapat menjadi bagian dari faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Pesan penting yang disampaikan kepada siswa adalah bahwa faktor risiko dapat ditekan, sementara faktor protektif dapat dibangun dan diperkuat.
Belajar Melakukan Self-Care

Bagian penting lainnya adalah bagaimana siswa dapat menjaga kesehatan jiwa melalui self-care.
Dalam materi, self-care dijelaskan sebagai proses mengenali kebutuhan psikologis dan emosional serta melakukan upaya untuk membantu diri sendiri dalam mengelola stres, meningkatkan resiliensi, dan menjaga kesejahteraan psikologis.
Bentuknya dapat sederhana, seperti menjaga pola makan dan tidur, berolahraga, melakukan aktivitas positif, tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan sosial, beribadah dan berdoa, serta belajar menerima dan mengelola emosi dengan baik.
Siswa juga diperkenalkan pada beberapa strategi koping, antara lain journaling, teknik stabilisasi emosi, latihan pernapasan, grounding, dan relaksasi.
Mencari Pertolongan adalah Tanda Kekuatan
Salah satu pesan penting dalam sosialisasi adalah keberanian untuk mencari pertolongan ketika mengalami masalah psikologis.
Siswa diperkenalkan pada tanda-tanda yang menunjukkan seseorang mungkin membutuhkan bantuan, baik dari aspek pikiran, emosi, kondisi fisik maupun perilaku. Beberapa di antaranya dapat berupa kesulitan fokus, kecemasan berlebihan, perubahan pola tidur, menarik diri dari interaksi sosial, penurunan aktivitas, hingga perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Materi menekankan bahwa membuka diri dan meminta pertolongan bukanlah bentuk kelemahan.
Mencari pertolongan justru merupakan bentuk keberanian untuk menjaga diri.
Siswa didorong untuk berbicara kepada orang dewasa yang dapat dipercaya, seperti orang tua, guru, tenaga bimbingan konseling, maupun tenaga kesehatan apabila menghadapi persoalan yang terasa sulit diselesaikan sendiri.
Mengenal Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis

Kegiatan ini juga memperkenalkan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis atau P3LP.
P3LP menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa. Pendekatan ini dapat membantu seseorang mengelola stres, mengenali potensi sumber tekanan atau trauma, memberikan rasa aman, memperkuat dukungan sosial, serta membantu seseorang terhubung dengan layanan kesehatan jiwa ketika diperlukan.
Melalui pengenalan tersebut, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya peduli terhadap kesehatan mental dirinya sendiri, tetapi juga memiliki empati ketika melihat teman sedang mengalami kesulitan.
Namun, siswa juga diberikan pemahaman bahwa menjadi teman yang peduli bukan berarti harus mengambil alih peran tenaga profesional. Ketika masalah membutuhkan penanganan lebih lanjut, langkah terbaik adalah membantu menghubungkan teman dengan orang dewasa atau layanan yang tepat.
Sekolah sebagai Lingkungan yang Aman dan Suportif
Pelaksanaan sosialisasi kesehatan jiwa menjadi bagian dari komitmen MTs/SMP Informatika MIMHa untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mendukung perkembangan akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan emosional siswa.
Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas dan karakter. Karena itu, siswa perlu mendapatkan ruang yang aman untuk belajar mengenali emosi, membangun resiliensi, menghadapi tekanan, serta mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi setiap persoalan seorang diri.
Melalui kolaborasi dengan UPTD Puskesmas Girimande, sekolah berharap literasi kesehatan jiwa dapat semakin tumbuh di lingkungan siswa.
Kenali perasaanmu, jaga dirimu, dengarkan temanmu, dan jangan takut mencari pertolongan ketika membutuhkannya.
Identitas Publikasi
Penulis: Humas Sekolah Islam MIMHa
Unit: MTs/SMP Informatika MIMHa
Kegiatan: Sosialisasi Kesehatan Jiwa dan Orientasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis
Narasumber: Tim UPTD Puskesmas Girimande
Hari/Tanggal: Senin, 26 Oktober 2026
Tempat: Halaman MTs/SMP Informatika MIMHa, Bandung
Tanggal publikasi: 27 Oktober 2026

